Sunday, June 13
Shadow

tujuh Rekomendasi Pengembangan Kendaraan Listrik pada Indonesia

JAKARTA, KOMPAS. com –   Dewasa ini sejumlah ancang-ancang tengah dilakukan pemerintah dalam jalan mempercepat era kendaraan listrik dalam Tanah Air sebagaimana amanat dengan termaktub dalam Peraturan Presiden No. 55 Tahun 2019.

Beberapa di antaranya, pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan sebagai penggerak utama instrumen, menetapkan peta jalan Indonesia 4. 0, sampai menebar iming-iming dorongan bagi pelaku industri.

Sejalan dengan hal ini, beraneka macam diskusi yang melibatkan regulator, akademisi, ekonom, asosiasi industri, serta karakter usaha pun telah digelar buat menyeleraskan jalan meski dari bervariasi sudut pandang.

Baca pula: 4 BUMN Gotong Royong Siapkan Pabrik Baterai Kendaraan Listrik

Ilustrasi proses charge mobil listrik Hyundai Ioniq KOMPAS. com/Ruly Ilustrasi jalan charge mobil listrik Hyundai Ioniq

Pertama, perlu adanya kolaborasi regulator dan pelaku industri. Sebab, berdasarkan Riset Frost & Sullivan, disebutkan 41 persen pengguna kendaraan di Indonesia akan beringsut ke kendaraan listrik karena sudah menyadari manfaatnya dari sisi lingkungan dan kesehatan.

Tetapi untuk bisa menjaga dan memajukan minat tersebut, ada sejumlah tantangan yang harus diatasi antara lain harga yang relatif mahal, belum terciptanya ekosistem mobil listrik, datang terbatasnya infrastruktur pendukung.

Baca juga: Tahun Ajaran Toyota Siap Produksi dan Ekspor Kendaraan Elektrifikasi

Pertamina resmikan SPKLU komersial pertamanya di Fatmawati Pertamina Pertamina resmikan SPKLU komersial pertamanya di Fatmawati

Kedua, keselarasan kolaborasi antara kebijakan lintas instansi pemerintahan dan BUMN sebagai salah utama kunci suksesnya program kendaraan elektrik nasional.

Khususnya, pada menentukan prioritas capaian kendaraan ramah lingkungan terhadap penurunan emisi karbon dari sektor transportasi, efisiensi konsumsi BBM dan polusi noise /bising yang ditimbulkan oleh sektor transportasi.

Ketiga, insentif pajak untuk pabrik dan konsumen. Tingginya harga organ listrik menghambat minat masyarakat buat membeli mobil listrik.

Kondisi ini diakui oleh Taufiek Bawazier, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian dalam lupa satu seri diskusi.

Untuk meningkatkan minat masyarakat, Kemenperin telah mengusulkan sejumlah insentif fiskal kepada Kementerian Keuangan, mulai sejak diskon Pajak Penghasilan (PPh) pembuat mobil listrik, sampai keringanan imbalan masuk bagi komponen yang sedang diimpor.